Wednesday, February 18, 2009

Kondisi Perbankan AS Tahun 1988

Sebelum dunia perbankan Indonesia rontok, beberapa ekonom Indonesia melontarkan ide perlunya pengurangan jumlah bank sekaligus meningkatkan modal perbankan Indonesia. Dalam hal ini, tidak ada salahnya meningkatkan modal perbankan, tetapi ide pengurangan jumlah bank tampaknya salah kaprah.

Selang beberapa saat setelah ide itu dilontarkan, IMF merekomendasikan likuidasi 16 bank sebagai upaya penyehatan perbankan. Namun nyatanya ini malah menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan.

Benarkah jumlah bank di Indonesia terlalu banyak?? Tampaknya para ekonom terlalu sibuk mempersoalkan jumlah bank di Indonesia, padahal di AS jumlah bank jauh lebih banyak. Dalam hal ini, jangan dikira seluruh bank di AS sehat dan solid. Setiap tahun ada saja bank yang ditutup, terbanyak pada 1988 sekitar 200 bank, sedangkan pada 1992 ada 100 bank yang di-BBO (Bank Beku Operasi)-kan. Namun, para ekonom tampaknya lebih senang mengomentari kebrobokan perbankan Indonesia. Pembenahan perbankan itu perlu dan penting, tetapi apakah ini berarti IMF dapat mendikte Pemerintah AS?

Mirip dengan kepemilikan bank di Indonesia. Bank—bank di AS juga dimiliki oleh perusahaan induk (holding company). Bahkan, sebagian besar bank di AS, yakni 8.178 bank, dikontrol oleh sekitar 6.000 perusahaan induk. Mereka menguasai 84,5 % dari total asset perbankan AS. Dan hampir separo dari bank-bank itu dimiliki oleh perusahaan induk yang menguasai lebih dari dua bank. Ternyata, penumpukan kepemilikan asset bukan terjadi di Indonesia. Namun, para ekonom tampaknya lebih senang menyoroti masalah yang terjadi di Indonesia.  (Adiwarman Karim, 2001)

 

 

No comments:

Post a Comment