Kebijakan moneter bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi terdapat interdependensi terhadap berbagai variabel dalam perekonomian. Di satu sisi, kebijakan moneter, banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor dalam perekonomian, di sisi lain kebijakan moneter secara langsung juga memengaruhi kondisi moneter dan keuangan yang pada gilirannya akan membawa pengaruh terhadap konndisi sektor riil.
Implementasi kebijakan moneter tidak dapat dilakukan secara terpisah dari kebijakan ekonomi makro lainnya, seperti kebijakan fiskal, kebijakan sektoral, dan kebijakan lainnya. Semuanya mengarah pada pencapaian suatu tujuan akhir, yakni kesejahteraan sosial masyarakat . Secara keseluruhan, kebijakan fiskal yang merupakan suatu kebijakan yang terkait dengan anggaran pemerintah, bersama-sama dengan kebijakan moneter memengaruhi sisi permintaan dalam perekonomian, kebijakan sektoral seperti kebijakan di bidang perdagangan, perindustrian, pertambangan,pertanian, tenaga kerja, dan lain-lain, mempengaruhi sisi penawaran dari perekonomian. Kebijakan-kebijakan yang ditetapkan secara bersama-sama dapat saja memberikan pengaruh dengan arah yang saling bertentangan sehingga saling memperlemah. Hal ini disebut sebagai benturan kebijakan atau policy conflict.
Kebijakan ekonomi makro dikatakan optimal apabila terdapat suatu koordinasi antarkebijakan yang mengarah pada pencapaian sasaran secara keseluruhan sehingga dampak yang kurang menguntungkan dapat dihindari. Secara konseptual, koordinasi bauran kebijakan moneter dan fiscal dapat dilakukan melalui beberapa scenario, yaitu :
1. Bauran kebijakan moneter ekspansif dengan kebijakan fiskal ekspansif;
2. Bauran kebijakan moneter kontraktif dengan kebijakan fiskal ekspansif;
3. Bauran kebijakan moneter ekspansif dengan kebijakan fiskal kontraktif;
4. Bauran kebijakan moneter kontraktif dengan kebijakan fiskal kontraktif.
Sebagai contoh, apabila perekonomian mengalami mengalami resesi yang berkepanjangan, kebijakan moneter dan fiskal yang sama-sama ekspansif dan terkoordinasi secara baik optimal sangat tepat untuk mendorong kegiatan perekonomian dengan pengaruh yang moderat pada suku bunga. Sebaliknya, dalam perekonomian yang sedang mengalami booming, kebijakan moneter dan fiskal yang sama-sama kontraktif dan terkoordinasi dengan baik sangat bermanfaat bagi upaya mengurangi laju ekspansi pertumbuhan ekonomi.
Dalam skenario 2 dan 3 di atas, terdapat pengaruh yang saling meniadakan, dan hasil akhirnya tergantung pada kekuatan pengaruh relatif antara kebijakan moneter dan fiskal. Pengalaman empiris mengenai skenario 3 belum banyak terjadi. Namun, untuk skenario 2 mempunyai bukti empiris yang menunjukkan bahwa skenario kebijakan ini cendrung mendorong peningkatan suku bunga pasar yang berlebihan yang pada gilirannya menghambat kegiatan investasi oleh masyarakat. Ekspansi kegiatan pemerintah yang berlebihan dapat memberikan dampak negatif terhadap minat investasi masyarakat. Fenomena ini disebut crowding out. (Aulia Pohan, 2008).
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment