Tuesday, February 24, 2009

KEBIJAKAN MONETER DALAM KERANGKA EKONOMI MAKROKEBIJAKAN MONETER DALAM KERANGKA EKONOMI MAKRO

Kebijakan moneter bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi terdapat interdependensi terhadap berbagai variabel dalam perekonomian. Di satu sisi, kebijakan moneter, banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor dalam perekonomian, di sisi lain kebijakan moneter secara langsung juga memengaruhi kondisi moneter dan keuangan yang pada gilirannya akan membawa pengaruh terhadap konndisi sektor riil.

Implementasi kebijakan moneter tidak dapat dilakukan secara terpisah dari kebijakan ekonomi makro lainnya, seperti kebijakan fiskal, kebijakan sektoral, dan kebijakan lainnya. Semuanya mengarah pada pencapaian suatu tujuan akhir, yakni kesejahteraan sosial masyarakat . Secara keseluruhan, kebijakan fiskal yang merupakan suatu kebijakan yang terkait dengan anggaran pemerintah, bersama-sama dengan kebijakan moneter memengaruhi sisi permintaan dalam perekonomian, kebijakan sektoral seperti kebijakan di bidang perdagangan, perindustrian, pertambangan,pertanian, tenaga kerja, dan lain-lain, mempengaruhi sisi penawaran dari perekonomian. Kebijakan-kebijakan yang ditetapkan secara bersama-sama dapat saja memberikan pengaruh dengan arah yang saling bertentangan sehingga saling memperlemah. Hal ini disebut sebagai benturan kebijakan atau policy conflict. 

Kebijakan ekonomi makro dikatakan optimal apabila terdapat suatu koordinasi antarkebijakan yang mengarah pada pencapaian sasaran secara keseluruhan sehingga dampak yang kurang menguntungkan dapat dihindari. Secara konseptual, koordinasi bauran kebijakan moneter dan fiscal dapat dilakukan melalui beberapa scenario, yaitu : 
1. Bauran kebijakan moneter ekspansif dengan kebijakan fiskal ekspansif;
2. Bauran kebijakan moneter kontraktif dengan kebijakan fiskal ekspansif; 
3. Bauran kebijakan moneter ekspansif dengan kebijakan fiskal kontraktif;
4. Bauran kebijakan moneter kontraktif dengan kebijakan fiskal kontraktif. 

Sebagai contoh, apabila perekonomian mengalami mengalami resesi yang berkepanjangan, kebijakan moneter dan fiskal yang sama-sama ekspansif dan terkoordinasi secara baik optimal sangat tepat untuk mendorong kegiatan perekonomian dengan pengaruh yang moderat pada suku bunga. Sebaliknya, dalam perekonomian yang sedang mengalami booming, kebijakan moneter dan fiskal yang sama-sama kontraktif dan terkoordinasi dengan baik sangat bermanfaat bagi upaya mengurangi laju ekspansi pertumbuhan ekonomi. 

Dalam skenario 2 dan 3 di atas, terdapat pengaruh yang saling meniadakan, dan hasil akhirnya tergantung pada kekuatan pengaruh relatif antara kebijakan moneter dan fiskal. Pengalaman empiris mengenai skenario 3 belum banyak terjadi. Namun, untuk skenario 2 mempunyai bukti empiris yang menunjukkan bahwa skenario kebijakan ini cendrung mendorong peningkatan suku bunga pasar yang berlebihan yang pada gilirannya menghambat kegiatan investasi oleh masyarakat. Ekspansi kegiatan pemerintah yang berlebihan dapat memberikan dampak negatif terhadap minat investasi masyarakat. Fenomena ini disebut crowding out. (Aulia Pohan, 2008).  





BUNGA BANK DAN PERMASALAHANNYA

Secara jujur harus diakui bahwa terdapat beberapa kelemahan pada penerapan sistem bunga dalam perbankan konvensional, antara lain : 
Terjadinya negatif spread. Kondisi ini terjadi pada saat beban bunga yang harus dibayar bank konvensional kepada para penabung / deposan lebih besar daripada pendapatan bunga yang diterima oleh bank konvensional sendiri. 
Mengesampingkan usaha sektor riil. Bank konvensional cendrung memiliki jenis usaha yang memiliki resiko kecil atau bahkan tidak mempunyai resiko sama sekali. Oleh karena itu, beberapa bank konvensional lebih suka menempatkan dananya di pasar uang daripada di sektor riil. Contoh instrumen pasar uang salah satunya adalah Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Bank baru menempatkan dananya ke sektor riil apabila tingkat keuntungan di sektor riil melebihi suku bunga SBI. Semakin tinggi suku bunga SBI semakin tinggi juga suku bunga kredit untuk usaha sektor riil. Bagi sektor riil sendiri, tingkat suku bunga yang sedemikian tinggi membuat iklim usaha menjadi sulit karena sektor riil harus menyediakan dana yang lebih besar untuk membayar bunga kepada bank walaupun mengalami rugi sekalipun. Oleh karena itu, dengan kondisi yang seperti ini, usaha—usaha di sektor riil bisa rugi dan bisa saja sampai bankrut dengan sistem bunga konvensional.
 (Gatot Hatmoko, 2008). 


TEORI—TEORI EKONOMI SUMBER DAYA MANUSIA


1. Teori Klasik Adam Smith 
 Adam Smith (1729—1790) menganggap bahwa manusialah sebagai faktor produksi yang utama yang menentukan kemakmuran bangsa—bangsa. Alasannya, alam (tanah) tidak ada artinya kalau tidak ada sumber daya manusia yang pandai mengolahnya sehingga bermanfaat bagi kehidupan. Dia juga melihat bahwa alokasi sumber daya manusia yang efektif adalah pemula pertumbuhan ekonomi. Setelah ekonomi tumbuh, akumulasi modal (fisik) baru mulai dibutuhkan untuk menjaga agar ekonomi tumbuh. Dengan kata lain, alokasi sumber daya manusia yang efektif merupakan syarat perlu bagi pertumbuhan ekonomi. 

2. Teori Malthus 
 Di satu pihak Smith optimis bahwa kesejahteraan umat manusia akan selalu meningkat sebagai dampak positif dari pembagian kerja dan spesialisasi. Sebaliknya, Malthus justru pesimis tentang masa depan umat manusia.
 Malthus pesimis disebabkan bahwa tanah sebagai salah satu faktor produksi tetap jumlahnya. Meskipun pemakaian tanah untuk produksi tidak akan seberapa. Dalam banyak hal justru jumlah tanah untuk pertanian berkurang karena sebagian digunakan untuk membangun perumahan, pabrik—pabrik dan bangunan lain serta pembuatan jalan. 
 Menurut Malthus manusia berkembang jauh lebih cepat dibandingkan dengan produksi hasil—hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan manusia. Manusia berkembang sesuai dengan deret ukur (geometric progression, dari 2 ke 4,8,16,32 dan seterusnya), sedangkan pertumbuhan produksi makanan hanya meningkat sesuai dengan deret hitung (aricmetric progression, dari 2 ke 4,6,8 dan seterusnya). Karena perkembangan manusia jauh lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan produksi hasil—hasil pertanian, maka Malthus meramal bahwa suatu ketika akan terjadi malapetaka yang akan menimpa umat manusia. Malthus menguraikan hal ini di dalam bukunya (Essay on the Principle of Population,1796), cara untuk menghindari malapetaka adalah dengan melakukan kontrol atau pengawasan atas pertumbuhan penduduk. Malthus tawarkan adalah menunda usia perkawinan dan mengurangi jumlah anak. (Mulyadi, 2003)





Definisi Ilmu ekonomi

Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Inti masalah ekonomi adalah adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas. Permasalahan itu kemudian menyebabkan timbulnya kelangkaan (Ingg: scarcity).
 
Kata "ekonomi" sendiri berasal dari kata Yunani οἶκος (oikos) yang berarti "keluarga, rumah tangga" dan νόμος (nomos), atau "peraturan, aturan, hukum," dan secara garis besar diartikan sebagai "aturan rumah tangga" atau "manajemen rumah tangga." Sementara yang dimaksud dengan ahli ekonomi atau ekonom adalah orang menggunakan konsep ekonomi dan data dalam bekerja.

Secara umum, subyek dalam ekonomi dapat dibagi dengan beberapa cara, yang paling terkenal adalah mikroekonomi vs makroekonomi. Selain itu, subyek ekonomi juga bisa dibagi menjadi positif (deskriptif) vs normatif, mainstream vs heterodox, dan lainnya. Ekonomi juga difungsikan sebagai ilmu terapan dalam manajemen keluarga, bisnis, dan pemerintah. Teori ekonomi juga dapat digunakan dalam bidang-bidang selain bidang moneter, seperti misalnya penelitian perilaku kriminal, penelitian ilmiah, kematian, politik, kesehatan, pendidikan, keluarga dan lainnya. Hal ini dimungkinkan karena pada dasarnya ekonomi — seperti yang telah disebutkan di atas — adalah ilmu yang mempelajari pilihan manusia. Banyak teori yang dipelajari dalam ilmu ekonomi diantaranya adalah teori pasar bebas, teori lingkaran ekonomi, invisble hand, informatic economy, daya tahan ekonomi, merkantilisme, briton woods, dan sebagainya.

Ada sebuah peningkatan trend untuk mengaplikasikan ide dan metode ekonomi dalam konteks yang lebih luas. Fokus analisa ekonomi adalah "pembuatan keputusan" dalam berbagai bidang dimana orang dihadapi pada pilihan-pilihan. misalnya bidang pendidikan, pernikahan, kesehatan, hukum, kriminal, perang, dan agama. Gary Becker dari University of Chicago adalah seorang perintis trend ini. Dalam artikel-artikelnya ia menerangkan bahwa ekonomi seharusnya tidak ditegaskan melalui pokok persoalannya, tetapi sebaiknya ditegaskan sebagai pendekatan untuk menerangkan perilaku manusia. Pendapatnya ini terkadang digambarkan sebagai ekonomi imperialis oleh beberapa kritikus.

Banyak ahli ekonomi mainstream merasa bahwa kombinasi antara teori dengan data yang ada sudah cukup untuk membuat kita mengerti fenomena yang ada di dunia. Ilmu ekonomi akan mengalami perubahan besar dalam ide, konsep, dan metodenya; walaupun menurut pendapat kritikus, kadang-kadang perubahan tersebut malah merusak konsep yang benar sehingga tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Hal ini menimbulkan pertanyaan "apa seharusnya dilakukan para ahli ekonomi?" The traditional Chicago School, with its emphasis on economics being an empirical science aimed at explaining real-world phenomena, has insisted on the powerfulness of price theory as the tool of analysis. On the other hand, some economic theorists have formed the view that a consistent economic theory may be useful even if at present no real world economy bears out its prediction. (wikipedia.org)

EKONOMI ISLAM : PERBEDAAN SUDUT PANDANG



Sampai saat ini, pemikian ekonom – ekonom Muslim kontemporer dapat kita klasifikasikan setidaknya menjadi tiga mazhab, yakni :


1. Mazhab Baqir As- Sadr 
 Mazhab ini dipelopori oleh Baqir As – Sadr dengan bukunya yang fenomenal : Iqtishaduna (ekonomi kita ). Mazhab ini berpendapat bahwa ilmu ekonomi tidak bisa sejalan dengan Islam. Ekonomi tetap ekonomi, dan Islam tetap Islam. Keduanya tidak akan pernah dapat disatukan karena keduanya berasal dari filosofi yang saling kontradiktif. Yang satu anti-Islam, yang lainnya Islam. 
 Menurut ilmu ekonomi, masalah ekonomi muncul karena adanya keinginan manusia yang tidak terbatas sementara sumber daya yang tersedia untuk memuaskan keinginan manusia tersebut jumlahnya terbatas. Mazhab Baqir menolak pernyataan ini, karena menurut mereka, Islam tidak mengenal adanya sumber daya yang terbatas. Dalil yang dipakai adalah Q.S Al- Qamar [54] : 49. 
 “ Sungguh telah kami ciptakan segala sesuatu dalam ukuran yang setepat – tepatnya “. 

 Dengan demikian, karena segala sesuatunya sudah terukur dengan sempurna sebenarnya Allah telah memberikan sumber daya yang cukup bagi seluruh manusia di dunia. Pendapat bahwa keinginan manusia itu tidak terbatas juga ditolak. Contoh : manusia akan berhenti minum jika dahaganya sudah terpuaskan. Oleh karena itu, mazhab ini berkesimpulan bahwa keinginan yang tidak terbatas itu tidak benar sebab pada kenyataannya keinginan manusia itu terbatas. 
 Mazhab Baqir berpendapat bahwa masalah ekonomi muncul karena adanya distribusi yang tidak merata dan adil sebagai akibat sistem ekonomi yang membolehkan eksploitasi pihak yang kuat terhadap pihak yang lemah. Yang kuat memiliki akses terhadap sumber daya sehingga menjadi sangat kaya, sementara yang lemah tidak memiliki akses terhadap sumber daya sehingga menjadi sangat miskin. Karena itu masalah ekonomi muncul bukan karena sumber daya yang terbatas, tetapi karena keserakahan manusia yang tidak terbatas. 

2. Mazhab Mainstream 
 Mazhab Mainstream justru setuju bahwa masalah ekonomi muncul karena sumber daya yang terbatas yang dihadapkan pada keinginan manusia yang tidak terbatas. Contohnya terjadi kelangkaan Suplai Beras di Etiopia dan Bangladesh. 
 Dalil yang dipakai Al Baqarah [2] : 155 yang artinya : 
 “Dan sungguh akan Kami Uji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan Berikanlah berita gembira bagi orang – orang yang sabar”. 

 Dengan demikian, pandangan mazhab ini tentang masalah ekonomi hampir tidak ada bedanya dengan pandangan ekonomi konvensional. Kelangkaan sumber dayalah yang menjadi penyebab mmunculnya masalah ekonomi. Bila demikian, dimanakah letak perbedaan mazhab mainstream ini dengan ekonomi konvensional ??
 Perbedaannya terletak dalam cara menyelesaikan masalah tersebut. Dilema sumber daya yang terbatas versus keinginan yang tak terbatas memaksa manusia untuk melakukan pilihan – pilihan atas keinginannya. Kemudian manusia membuat skala prioritas pemenuhan keinginan, dari yang paling penting sampai yang paling tidak penting. Dalam ekonomi konvensional, pilihan dan penentuan skala prioritas dilakukan berdasarkan selera pribadi masing – masing. 
 Tokoh – tokoh mazhab ini diantaranya M. Umer Chapra, M.A Mannan, M. Nejatullah Siddiqi, dan lain – lain. Umer Chapra misalnya berpendapat bahwa usaha mengembangkan ekonomi islami bukan berarti memusnahkan semua hasil analisis yang baik dan sangat berharga yang telah dicapai oleh ekonomi konvensional selama lebih dari seratus tahun terakhir. Nabi bersabda bahwa ilmu itu bagi umat Islam adalah ibarat barang yang hilang. Di mana saja ditemukan, maka umat Muslimlah yang paling berhak mengambilnya. 


3. Mazhab Alternatif – Kritis 
 Pelopor mazhab ini adalah Timur Kuran (Ketua Jurusan Ekonomi di University of Southern California). Mazhab ini mengkritik kedua mazhab sebelumnya. Mazhab Baqir dikritik sebagai mazhab yang berusaha untuk menemukan sesuatu yang baru yang sebenarnya sudah ditemukan orang lain. Sementara itu, mazhab mainstream dikritiknya sebagai jiplakan dari ekonomi neoklasik dengan menghilangkan variabel riba dan memasukkan variabel zakat serta niat. 
 Mazhab ini adalah sebuah mazhab yang kritis. Mereka berpendapat bahwa analisis kritis bukan saja harus dilakukan terhadap sosialisme dan kapitalisme, tetapi juga terhadap ekonomi Islam itu sendiri. Mereka yakin bahwa Islam pasti benar, tetapi ekonomi islami belum tentu benar karena ekonomi Islami adalah hasil tafsiran manusia atas Alquran dan Sunnah, sehingga nilai kebenarannya tidak mutlak. Proposisi dan teori yang diajukan oleh ekonomi islami harus selalu diuji kebenarannya sebagaimana yang dilakukan terhadap ekonomi konvensional. 
(Adiwarman Karim, 2007)  



 


Wednesday, February 18, 2009

Kondisi Perbankan AS Tahun 1988

Sebelum dunia perbankan Indonesia rontok, beberapa ekonom Indonesia melontarkan ide perlunya pengurangan jumlah bank sekaligus meningkatkan modal perbankan Indonesia. Dalam hal ini, tidak ada salahnya meningkatkan modal perbankan, tetapi ide pengurangan jumlah bank tampaknya salah kaprah.

Selang beberapa saat setelah ide itu dilontarkan, IMF merekomendasikan likuidasi 16 bank sebagai upaya penyehatan perbankan. Namun nyatanya ini malah menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan.

Benarkah jumlah bank di Indonesia terlalu banyak?? Tampaknya para ekonom terlalu sibuk mempersoalkan jumlah bank di Indonesia, padahal di AS jumlah bank jauh lebih banyak. Dalam hal ini, jangan dikira seluruh bank di AS sehat dan solid. Setiap tahun ada saja bank yang ditutup, terbanyak pada 1988 sekitar 200 bank, sedangkan pada 1992 ada 100 bank yang di-BBO (Bank Beku Operasi)-kan. Namun, para ekonom tampaknya lebih senang mengomentari kebrobokan perbankan Indonesia. Pembenahan perbankan itu perlu dan penting, tetapi apakah ini berarti IMF dapat mendikte Pemerintah AS?

Mirip dengan kepemilikan bank di Indonesia. Bank—bank di AS juga dimiliki oleh perusahaan induk (holding company). Bahkan, sebagian besar bank di AS, yakni 8.178 bank, dikontrol oleh sekitar 6.000 perusahaan induk. Mereka menguasai 84,5 % dari total asset perbankan AS. Dan hampir separo dari bank-bank itu dimiliki oleh perusahaan induk yang menguasai lebih dari dua bank. Ternyata, penumpukan kepemilikan asset bukan terjadi di Indonesia. Namun, para ekonom tampaknya lebih senang menyoroti masalah yang terjadi di Indonesia.  (Adiwarman Karim, 2001)

 

 

Thursday, February 12, 2009

Definisi EKonomi Makro

1. Apakah Makroekonomi Itu?

Makroekonomi merupakan suatu studi tentang bagaimana sistem perekonomian berjalan secara garis besar, tanpa terlalu banyak menaruh perhatian pada hal—hal yang bersifat rinci dan rancu.

 

2. Beberapa masalah Pokok Makroekonomi

A) Siklus Bisnis

Kondisi ekonomi cendrung tidak mengikuti pola yang tetap, tetapi lebih bergerak secara berkala naik dan turun, yang cendrung disebut Siklus Bisnis.

 

B) Standar Hidup Keseluruhan.

Apabila ouput total maupun output  perorang telah naik selama beberapa dasawarsa maka hal ini bisa disebut kenaikan standar hidup rata-rata.

 

C) Inflasi dan Resesi.

 

D) Anggaran dan Defisit Perdagangan. (Lipsey, 1995)